Sepanjang Jalan Cinta
Cerpen Irwan Kelana (Republika, 18 November 2012)
SEORANG lelaki tak bisa lari dari takdirnya sendiri. Ia tak bisa menolak manakala takdir cinta menghampirinya.
Delapan tahun lalu, saat Tuhan memanggil Rindu kembali ke haribaan-Nya, Bayu merasa amat terpukul. Mengapa Dia mencerabut wanita yang sangat dikasihinya–seorang istri yang sangat lembut dan penyayang–dari kehidupannya? Mengapa secepat itu wanita yang merupakan cinta pertamanya sejak SMA meninggalkannya dengan menitipkan dua orang putra yang baru duduk di bangku kelas I SMP dan kelas V SD?
Suatu malam, seusai menunaikan tugas suami-istri yang sangat indah, istrinya berbisik di telinganya.
“Mas percaya kepada Allah?”
Bayu tertawa kecil. “Ya iyalah.”
“Betul-betul percaya kepada Allah?” tanya istrinya lagi.....................selengkapnya,
Bunga rampai cerpen (cerita pendek) sastrawan Indonesia, baik cerpen klasik, maupun cerpen modern.
Rabu, 12 Desember 2012
Selasa, 11 Desember 2012
Cerpen karya Abidah El Khalieqy: "Kamar Dua Belas"
Kamar Dua Belas
Cerpen Abidah El Khalieqy (Jawa Pos, 1 April 2012)
KAMAR hotel jadi sunyi. Tiba-tiba saja, Komar dan Syamsu, dua penghuni kamar mewah nomor dua belas itu saling berpikir tentang kematian. Tentu banyak versi, banyak cara pandang yang bisa diulang untuk melihat kematian seseorang. Seperti keduanya, meski titik awal dan akhir telah ditemukan, masih juga berdebat untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sampai keduanya membisu, berdiam diri di antara kemewahan lampu merkuri.
Beberapa saat kemudian, Komar tak tahan dengan kebisuan dan memulai percakapan dengan nada bijaksana. Ringan saja kata-katanya, seolah sedang memberi nasihat pada murid-muridnya di sekolahan.
“Bagiku tak sulit mengenali kematiannya. Manusia bisa dilihat di ..............Selengkapnya
Cerpen Abidah El Khalieqy (Jawa Pos, 1 April 2012)
KAMAR hotel jadi sunyi. Tiba-tiba saja, Komar dan Syamsu, dua penghuni kamar mewah nomor dua belas itu saling berpikir tentang kematian. Tentu banyak versi, banyak cara pandang yang bisa diulang untuk melihat kematian seseorang. Seperti keduanya, meski titik awal dan akhir telah ditemukan, masih juga berdebat untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sampai keduanya membisu, berdiam diri di antara kemewahan lampu merkuri.
Beberapa saat kemudian, Komar tak tahan dengan kebisuan dan memulai percakapan dengan nada bijaksana. Ringan saja kata-katanya, seolah sedang memberi nasihat pada murid-muridnya di sekolahan.
“Bagiku tak sulit mengenali kematiannya. Manusia bisa dilihat di ..............Selengkapnya
Senin, 10 Desember 2012
Cerpen karya Danang Probotanoyo: "Pahlawan Tersisa di Makam Tua"
Pahlawan Tersisa di Makam Tua
Cerpen Danang Probotanoyo (Republika, 11 November 2012
SENJA temaram menjemput malam. Kumaidi duduk di kursi rotan tua yang nyaris berbentuk bulat mirip telur ayam. Kursi dan meja pasangannya tersebut pemberian Pak Sudjono (almarhum), bekas komandan peleton di PETA tempat Kumaidi bergabung dulu.
Kursi itu masih kokoh walau pliturannya nyaris tak berbekas. Hanya meja nakas pasangannya yang sudah kelihatan reyot. Itu pun diusahakan Kumaidi agar bisa lebih lama lagi masa pakainya dengan diperkuat beberapa paku pada siku-sikunya. Kursi dan meja itu dikirim sendiri oleh Pak Sudjono pada tahun 1978 sebagai hadiah sekaligus bentuk solidaritasnya terhadap kekurangberuntungan nasib Kumaidi, sebagai sesama ekspejuang kemerdekaan. Pak Sudjono sendiri mengakhiri pengabdiannya kepada republik sebagai pensiunan di pabrik gula terbesar di kota mereka. Kondisi kontras dialami Kumaidi yang hingga sekarang masih terus berjuang, berjuang dan berjuang. Bedanya hanya pada medannya .................Selengkapnya,
Cerpen Danang Probotanoyo (Republika, 11 November 2012
SENJA temaram menjemput malam. Kumaidi duduk di kursi rotan tua yang nyaris berbentuk bulat mirip telur ayam. Kursi dan meja pasangannya tersebut pemberian Pak Sudjono (almarhum), bekas komandan peleton di PETA tempat Kumaidi bergabung dulu.
Kursi itu masih kokoh walau pliturannya nyaris tak berbekas. Hanya meja nakas pasangannya yang sudah kelihatan reyot. Itu pun diusahakan Kumaidi agar bisa lebih lama lagi masa pakainya dengan diperkuat beberapa paku pada siku-sikunya. Kursi dan meja itu dikirim sendiri oleh Pak Sudjono pada tahun 1978 sebagai hadiah sekaligus bentuk solidaritasnya terhadap kekurangberuntungan nasib Kumaidi, sebagai sesama ekspejuang kemerdekaan. Pak Sudjono sendiri mengakhiri pengabdiannya kepada republik sebagai pensiunan di pabrik gula terbesar di kota mereka. Kondisi kontras dialami Kumaidi yang hingga sekarang masih terus berjuang, berjuang dan berjuang. Bedanya hanya pada medannya .................Selengkapnya,
Cerpen karya Afrizal Malna: "Tulisan Kelinci Merah"
Tulisan Kelinci Merah
Cerpen Afrizal Malna (Kompas, 11 November 2012)
BAU tanah seperti ladang kenangan, perputaran dari yang tumbuh tanpa perubahan, dan rumah-rumah air tanpa banjir. Bau daun, dahan-dahan pohon, lumut yang memberi warna pada batu dan kayu, semua seperti kalimat padat yang membuat hutan seperti konser kebisuan.
Membuat partiturnya sendiri melalui daun-daun yang tumbuh, layu, dan membusuk. Siklus kehidupan dan kematian yang rumit dan kompleks berlangsung sepanjang hari dalam hutan itu, seperti sebuah pertapaan untuk waktu.
Matahari membuat penggaris-penggaris cahaya, mengukur jarak daun menjelang tumbuh dan layu. Laba-laba membuat sarang dari air liurnya, mengubah waktu seperti jaring-jaring kematian. Daun kering melayang jatuh. Semuanya seperti anak-anak kalimat yang membuat sayatan lain dalam induk kalimatnya. Sebuah generalisasi yang justru berlangsung untuk mengukuhkan perbedaan dalam pelukan hutan ............Selengkapnya,
Cerpen Afrizal Malna (Kompas, 11 November 2012)
BAU tanah seperti ladang kenangan, perputaran dari yang tumbuh tanpa perubahan, dan rumah-rumah air tanpa banjir. Bau daun, dahan-dahan pohon, lumut yang memberi warna pada batu dan kayu, semua seperti kalimat padat yang membuat hutan seperti konser kebisuan.
Membuat partiturnya sendiri melalui daun-daun yang tumbuh, layu, dan membusuk. Siklus kehidupan dan kematian yang rumit dan kompleks berlangsung sepanjang hari dalam hutan itu, seperti sebuah pertapaan untuk waktu.
Matahari membuat penggaris-penggaris cahaya, mengukur jarak daun menjelang tumbuh dan layu. Laba-laba membuat sarang dari air liurnya, mengubah waktu seperti jaring-jaring kematian. Daun kering melayang jatuh. Semuanya seperti anak-anak kalimat yang membuat sayatan lain dalam induk kalimatnya. Sebuah generalisasi yang justru berlangsung untuk mengukuhkan perbedaan dalam pelukan hutan ............Selengkapnya,
Cerpen karya Adi Ekopriyono: "Kontemplasi di Tepi Campuhan"
"Kontemplasi di Tepi Campuhan"
Cerpen Adi Ekopriyono (Suara Merdeka, 11 November 2012)
DI teras bungalow itu. Di sela-sela bunyi serangga malam. Lolong anjing di kejauhan. Pada semilir angin sepoi-sepoi basah. Gemericik air sungai.
Di sela dingin yang menggelayut. Di kesunyian yang mendera.
Mataku nanap, menatap samar-samar kelebatan pepohonan yang ditelan gelap. Inikah keteduhan yang Engkau kirim kepadaku lewat keheningan malam di tepi Sungai Campuhan? Jiwaku bergejolak. Antara ada dan tiada. Antara fenomena dan nomena. Apakah Engkau sedang mengajariku tentang makna kehidupan sesungguhnya, yang sama sekali lain? Seperti kata Krishnamurti, .................Selengkapnya,
Cerpen Adi Ekopriyono (Suara Merdeka, 11 November 2012)
DI teras bungalow itu. Di sela-sela bunyi serangga malam. Lolong anjing di kejauhan. Pada semilir angin sepoi-sepoi basah. Gemericik air sungai.
Di sela dingin yang menggelayut. Di kesunyian yang mendera.
Mataku nanap, menatap samar-samar kelebatan pepohonan yang ditelan gelap. Inikah keteduhan yang Engkau kirim kepadaku lewat keheningan malam di tepi Sungai Campuhan? Jiwaku bergejolak. Antara ada dan tiada. Antara fenomena dan nomena. Apakah Engkau sedang mengajariku tentang makna kehidupan sesungguhnya, yang sama sekali lain? Seperti kata Krishnamurti, .................Selengkapnya,
Cerpen karya Azizah Hefni: "Perempuan Padi "
Perempuan Padi
Cerpen Azizah Hefni (Jawa Pos, 11 November 2012)
ARA, di hamparan sawah itu, aku selalu ada; ikut bersemai bersama padi-padi dan lenguh sapi.
***
Sepanjang hari, aku selalu menantimu duduk di pinggir selokan itu. Tubuhmu yang mungil berlari keluar dari rumah berbata merah, sembari menebar senyum ke arah padi-padi. Pada mulanya kau hanya akan memandang jauh pada hamparan sawah yang hijau, kemudian matamu yang bening akan menatap ke awan. Awan-awan yang selalu bergumpal. Awan-awan yang membentuk hewan-hewan atau wajah-wajah khayalan. Kau akan berteriak, “Tuu waaannn!! Tuu waann!” (Itu awan! Itu awan!).
Kau seperti burung kenari yang berdendang menyambut pagi. Bau badanmu pasti sangat kecut dan kau belum sikat gigi. Betismu yang kering tampak .................Selengkapnya
Cerpen Azizah Hefni (Jawa Pos, 11 November 2012)
ARA, di hamparan sawah itu, aku selalu ada; ikut bersemai bersama padi-padi dan lenguh sapi.
***
Sepanjang hari, aku selalu menantimu duduk di pinggir selokan itu. Tubuhmu yang mungil berlari keluar dari rumah berbata merah, sembari menebar senyum ke arah padi-padi. Pada mulanya kau hanya akan memandang jauh pada hamparan sawah yang hijau, kemudian matamu yang bening akan menatap ke awan. Awan-awan yang selalu bergumpal. Awan-awan yang membentuk hewan-hewan atau wajah-wajah khayalan. Kau akan berteriak, “Tuu waaannn!! Tuu waann!” (Itu awan! Itu awan!).
Kau seperti burung kenari yang berdendang menyambut pagi. Bau badanmu pasti sangat kecut dan kau belum sikat gigi. Betismu yang kering tampak .................Selengkapnya
Cerpen karya Akira Adhisurya: "Kura-Kura Sungai Kamo"
Kura-Kura Sungai Kamo
Cerpen karya Akira Adhisurya (Suara Merdeka, 18 November 2012)
PERNAHKAH terselip keinginan pada diri kita untuk, betapa pun kecilnya, kembali ke masa lampau, menghidupinya lagi seperti masa kini? Tanpa kita sadari itulah yang sebenarnya terjadi ketika kita melangkah ke dunia maya. Itulah salah satu esensi Facebook yang sekarang nyaris dimiliki siapa saja asal dia tidak buta internet. Bukankah jejaring sosial ini mempertemukan kembali para pelaku masa lampau? Selain teman masa kini dan teman yang belum pernah ditemui, seorang pemilik profil Facebook pasti juga kembali bersua dengan teman masa lalunya. Tidak jarang pula perjumpaan di alam maya Facebook berlanjut dengan pertemuan yang sebenarnya: para pelaku masa lampau akhirnya kembali bergaul di masa kini.
Layak kutegaskan, pertemuan yang berikut kututurkan bukanlah gagasanku. Itu ide Wati tak lama setelah kuberitahu tentang kedatanganku. Dalam salah satu pesannya, dia sudah kirim ratusan pesan sejak satu setengah tahun bergaul lewat Facebook denganku, adik kelas bekas asistenku ini mendesak-desak untuk bertemu secepatnya, karena ............Selengkapnya
Cerpen karya Akira Adhisurya (Suara Merdeka, 18 November 2012)
PERNAHKAH terselip keinginan pada diri kita untuk, betapa pun kecilnya, kembali ke masa lampau, menghidupinya lagi seperti masa kini? Tanpa kita sadari itulah yang sebenarnya terjadi ketika kita melangkah ke dunia maya. Itulah salah satu esensi Facebook yang sekarang nyaris dimiliki siapa saja asal dia tidak buta internet. Bukankah jejaring sosial ini mempertemukan kembali para pelaku masa lampau? Selain teman masa kini dan teman yang belum pernah ditemui, seorang pemilik profil Facebook pasti juga kembali bersua dengan teman masa lalunya. Tidak jarang pula perjumpaan di alam maya Facebook berlanjut dengan pertemuan yang sebenarnya: para pelaku masa lampau akhirnya kembali bergaul di masa kini.
Layak kutegaskan, pertemuan yang berikut kututurkan bukanlah gagasanku. Itu ide Wati tak lama setelah kuberitahu tentang kedatanganku. Dalam salah satu pesannya, dia sudah kirim ratusan pesan sejak satu setengah tahun bergaul lewat Facebook denganku, adik kelas bekas asistenku ini mendesak-desak untuk bertemu secepatnya, karena ............Selengkapnya
Langganan:
Postingan (Atom)