Tampilkan postingan dengan label Cerpenis dengan Inisial 'A'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenis dengan Inisial 'A'. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

Cerpen karya Afrizal Malna: "Pasir Retak"


Pasir Retak
Cerpen Afrizal Malna (Jawa Pos, 20 Mei 2012)

HUJAN turun di atas api. Suara api dan suara hujan bercampur seperti suara sungai dengan alirannya yang deras. Keduanya menjadi nyanyian cinta menjelang senja.

Hujan tak tahu kenapa api membuat warna merah jingga yang panas,api juga tak tahu kenapa hujan dipanggil hujan setiap ia turun, seperti mahluk terbuat dari air yang turun dari langit. Mereka berdua, hujan dan api itu, mengatakan: biarlah angin terus berjalan dari kota ke kota, mengantar gunung dan laut kepadamu, mengantar langit dan tanah kepadamu, mengantar bisik-bisik dari dalam sejarah lebih dekat lagi dengan telingamu. Keduanya menolak tentang berita yang disiarkan beberapa pemancar TV, bahwa telah turun “hujan api” di sebuah kota.

Kami adalah hujan dan api, bukan hujan-api.

Basa-basi itu, antara hujan dan api, mereka katakan itu setiap pagi hanya untuk merayu agar....Selengkapnya

Sabtu, 15 Desember 2012

Cerpen karya Arswendo Atmowiloto: "Bu Geni di Bulan Desember"

"Bu Geni di Bulan Desember"
Cerpen Arswendo Atmowiloto (Kompas, 20 Mei 2012)

BAGI Bu Geni, semua bulan adalah Desember. Bulan lalu, sekarang ini, atau bulan depan berarti Desember. Maka kalau berhubungan dengannya, lebih baik tidak berpatokan kepada tanggal, melainkan hari. Kalau mengundang bilang saja Jumat dua Jumat lagi. Kalau mengatakan tanggal 17, bisa repot. Karena tanggal 17 belum tentu jatuh hari Jumat. Kalau memesan tanggal 17, bisa-bisa Bu Geni tidak datang sesuai hari yang dijanjikan.

Masalahnya banyak sekali yang berhubungan dengan Bu Geni. Semua penduduk yang ingin mengawinkan anaknya, pilihannya hanya satu: Bu Geni, juru rias pengantin. Banyak perias pengantin lain, tapi tak bisa menyamai Bu Geni. Bahkan setelah banyak salon, pilihan tetap pada Bu Geni.

Menurut yang sudah-sudah, Bu Geni bukan perias biasa. Beliau mampu mengubah calon pengantin perempuan menjadi sedemikian cantiknya sehingga benar-benar manglingi, tak dikenali lagi. Salah satu keistimewaan beliau adalah menyemburkan asap rokok ke wajah calon pengantin. Menurut tradisi, katanya ini disembagani, dijadikan seperti  .....................selengkapnya

Cerpen karya Agus Noor: "Kurma Kiai Karnawi"


Kurma Kiai Karnawi
Cerpen Agus Noor (Kompas, 7 Oktober 2012)

TUBUH orang itu menghitam—nyaris gosong—sementara kulitnya kisut kering penuh sisik kasar dengan borok kering. Mulutnya perot, seakan ada yang mencengkeram rahang dan lehernya. Ia terbelalak seolah melihat maut yang begitu mengerikan. Sudah lebih delapan jam ia mengerang meregang berkelojotan. Orang-orang yakin: dia terkena teluh, dan hanya kematian yang bisa menyelamatkan.

Kiai Karnawi, yang dipanggil seorang tetangga, muncul. Beliau menatap penuh kelembutan pada orang yang tergeletak di kasur itu. Kesunyian yang mencemaskan membuat udara dalam kamar yang sudah pengap dan berbau amis terasa semakin berat. Beberapa orang yang tak tahan segera beranjak keluar dengan menahan mual. Kiai Karnawi mengeluarkan sebutir kurma, dan menyuapkan ke mulut orang itu. Para saksi mata menceritakan: sesaat setelah kurma tertelan, tubuh orang itu terguncang hebat, seperti dikejutkan oleh badai listrik. Lalu cairan hitam kental meleleh dari mulutnya, berbau busuk, penuh belatung dan lintah. Dari bawah tubuhnya merembes serupa kencing kuning pekat, seolah bercampur nanah. Seekor ular keluar dari duburnya, dan—astaghfirullah—puluhan paku berkarat menyembul dari pori-pori orang itu. Lalu berjatuhan pula puluhan mur dan baut, potongan kawat berduri, biji-biji gotri dan silet yang masih terlihat berkilat. Orang itu mengerang panjang. Kiai Karnawi mengangguk ke arah yang menyaksikan, “Biarkan dia istirahat.”

Keesokan harinya, orang itu sudah bugar.
Kisah itu hanyalah salah satu dari banyak kisah yang sudah Hanafi dengar tentang Kiai Karnawi. Kisah paling dramatik yang Hanafi dengar, ialah .................... selengkapnya

Selasa, 11 Desember 2012

Cerpen karya Abidah El Khalieqy: "Kamar Dua Belas"

Kamar Dua Belas
Cerpen Abidah El Khalieqy (Jawa Pos, 1 April 2012)

KAMAR hotel jadi sunyi. Tiba-tiba saja, Komar dan Syamsu, dua penghuni kamar mewah nomor dua belas itu saling berpikir tentang kematian. Tentu banyak versi, banyak cara pandang yang bisa diulang untuk melihat kematian seseorang. Seperti keduanya, meski titik awal dan akhir telah ditemukan, masih juga berdebat untuk mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sampai keduanya membisu, berdiam diri di antara kemewahan lampu merkuri.

Beberapa saat kemudian, Komar tak tahan dengan kebisuan dan memulai percakapan dengan nada bijaksana. Ringan saja kata-katanya, seolah sedang memberi nasihat pada murid-muridnya di sekolahan.

“Bagiku tak sulit mengenali kematiannya. Manusia bisa dilihat di ..............Selengkapnya


Senin, 10 Desember 2012

Cerpen karya Afrizal Malna: "Tulisan Kelinci Merah"

Tulisan Kelinci Merah
Cerpen Afrizal Malna (Kompas, 11 November 2012)

BAU tanah seperti ladang kenangan, perputaran dari yang tumbuh tanpa perubahan, dan rumah-rumah air tanpa banjir. Bau daun, dahan-dahan pohon, lumut yang memberi warna pada batu dan kayu, semua seperti kalimat padat yang membuat hutan seperti konser kebisuan.

Membuat partiturnya sendiri melalui daun-daun yang tumbuh, layu, dan membusuk. Siklus kehidupan dan kematian yang rumit dan kompleks berlangsung sepanjang hari dalam hutan itu, seperti sebuah pertapaan untuk waktu.

Matahari membuat penggaris-penggaris cahaya, mengukur jarak daun menjelang tumbuh dan layu. Laba-laba membuat sarang dari air liurnya, mengubah waktu seperti jaring-jaring kematian. Daun kering melayang jatuh. Semuanya seperti anak-anak kalimat yang membuat sayatan lain dalam induk kalimatnya. Sebuah generalisasi yang justru berlangsung untuk mengukuhkan perbedaan dalam pelukan hutan ............Selengkapnya,

Cerpen karya Adi Ekopriyono: "Kontemplasi di Tepi Campuhan"

"Kontemplasi di Tepi Campuhan"
Cerpen Adi Ekopriyono (Suara Merdeka, 11 November 2012)

DI teras bungalow itu. Di sela-sela bunyi serangga malam. Lolong anjing di kejauhan. Pada semilir angin sepoi-sepoi basah. Gemericik air sungai.

Di sela dingin yang menggelayut. Di kesunyian yang mendera.
Mataku nanap, menatap samar-samar kelebatan pepohonan yang ditelan gelap. Inikah keteduhan yang Engkau kirim kepadaku lewat keheningan malam di tepi Sungai Campuhan? Jiwaku bergejolak. Antara ada dan tiada. Antara fenomena dan nomena. Apakah Engkau sedang mengajariku tentang makna kehidupan sesungguhnya, yang sama sekali lain? Seperti kata Krishnamurti,  .................Selengkapnya,

Cerpen karya Azizah Hefni: "Perempuan Padi "

Perempuan Padi
Cerpen Azizah Hefni (Jawa Pos, 11 November 2012)

ARA, di hamparan sawah itu, aku selalu ada; ikut bersemai bersama padi-padi dan lenguh sapi.
***
Sepanjang hari, aku selalu menantimu duduk di pinggir selokan itu. Tubuhmu yang mungil berlari keluar dari rumah berbata merah, sembari menebar senyum ke arah padi-padi. Pada mulanya kau hanya akan memandang jauh pada hamparan sawah yang hijau, kemudian matamu yang bening akan menatap ke awan. Awan-awan yang selalu bergumpal. Awan-awan yang membentuk hewan-hewan atau wajah-wajah khayalan. Kau akan berteriak, “Tuu waaannn!! Tuu waann!” (Itu awan! Itu awan!).

Kau seperti burung kenari yang berdendang menyambut pagi. Bau badanmu pasti sangat kecut dan kau belum sikat gigi. Betismu yang kering tampak .................Selengkapnya

Cerpen karya Akira Adhisurya: "Kura-Kura Sungai Kamo"

Kura-Kura Sungai Kamo
Cerpen karya Akira Adhisurya (Suara Merdeka, 18 November 2012)

PERNAHKAH terselip keinginan pada diri kita untuk, betapa pun kecilnya, kembali ke masa lampau, menghidupinya lagi seperti masa kini? Tanpa kita sadari itulah yang sebenarnya terjadi ketika kita melangkah ke dunia maya. Itulah salah satu esensi Facebook yang sekarang nyaris dimiliki siapa saja asal dia tidak buta internet. Bukankah jejaring sosial ini mempertemukan kembali para pelaku masa lampau? Selain teman masa kini dan teman yang belum pernah ditemui, seorang pemilik profil Facebook pasti juga kembali bersua dengan teman masa lalunya. Tidak jarang pula perjumpaan di alam maya Facebook berlanjut dengan pertemuan yang sebenarnya: para pelaku masa lampau akhirnya kembali bergaul di masa kini.

Layak kutegaskan, pertemuan yang berikut kututurkan bukanlah gagasanku. Itu ide Wati tak lama setelah kuberitahu tentang kedatanganku. Dalam salah satu pesannya, dia sudah kirim ratusan pesan sejak satu setengah tahun bergaul lewat Facebook denganku, adik kelas bekas asistenku ini mendesak-desak untuk bertemu secepatnya, karena ............Selengkapnya

Minggu, 09 Desember 2012

Cerpen karya Abidah El Khalieqy: "Menunggu Kapak Ibrahim"

Menunggu Kapak Ibrahim
Cerpen Abidah El Khalieqy (Jawa Pos, 29 Juli 2012)

MENDELIK Algojo tak percaya. Untuk membuktikan keanehan yang disaksikan, petugas pencabut nyawa itu coba menebas lehernya dengan pedang istana yang pernah digunakan oleh raja untuk memenggal leher-leher para durjana.

Crrresss!!!

Putus sudah itu kepala. Jatuh menghadap ke tanah. Entah apa mantra yang dibaca, mulutnya komat-kamit, napasnya terengah mengisap energi baru dari dasar bumi. Tak dinyana, kepala pun kembali seperti sediakala.

“Ha! Kembali lagi?!” Algojo nyalangkan mata. “Kamu ini keturunan dajjal dari seberang mana, hah! Kok sakti amat. Ditebas pedang istana belum juga koit.”

“Bukan ane yang sakti, tapi pedang ente yang sudah tumpul. Sono diasah dulu lima tahun lagi, biar gak kalah dengan keris Ken Arok.” .......................Selengkapnya

Sabtu, 08 Desember 2012

Cerpen karya AA Navis: "Robohnya Surau Kami"

Cerpen "Robohnya Surau Kami"
karya : AA Navis.

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek .......................Selengkapnya

Rabu, 05 Desember 2012

Cerpen karya AA Navis: "Topi Helm"

Cerpen "Topi Helm"
Karya: AA Navis

Terjunjungnya topi helm di atas kepala Tuan O.M. menjamin kelancaran kerja di bengkel kereta api di kota kecil Padang Panjang. Meskipun Tuan O.M. itu pendek, tapi oleh topinya yang besar itu, tersandang jugalah wibawanya sebagai opseter mesin di bengkel itu. Dan oleh bawahannya di lengketkan julukan Si Topi Helm atas Tuan O.M. yang oleh ayahnya sendiri dinamai Gunarso. Malah pakai R.M. pula di depannya sebab turunannya.

Demikian besar wibawanya. Hingga kalau sekelompok orang mengobrol selagi kerja di bengkel itu, lalu di antaranya membisikkan: "Sssst. Si Topi Helm," maka berjungkir baliklah mereka bekerja dengan tekunnya. Kadangkala ini menjadi olok-olok. Misalnya sekelompok orang mengobrol, lalu seseorang menyebut Si Topi Helm dengan tiba-tiba, tunggang langganglah mereka ke tempat kerjanya kembali. Dan pura-pura asyiklah mereka bekerja, seolah-olah mereka sejak dari tadi benar-benar bekerja. Tapi tahu-tahu kedengaranlah tawa terbahak-bahak. Maka tahulah mereka bahwa ada yang berolok-olok dan mereka telah tertipu. ........................Selengkapnya

Cerpen karya Ahmad Tohari: "Senyum Karyamin"

Cerpen "Senyum Karyamin"
Karya: Ahmad Tohari

Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalananya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna.....

Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh lalu ...........Selengkapnya

Senin, 03 Desember 2012

Cerpen karya AA Navis: "Rekayasa Sejarah Si Patai"

Cerpen "Rekayasa Sejarah Si Patai"
karya: AA Navis

Seorang anak  kecil  ingusan berlari ke halaman ketika mendengar  genderang dipalu di jalan raya. Peristiwa  yang jarang  terjadi. Anak kecil itu berlari  membawa  badannya yang buntal tanpa baju. Matanya bersinar-sinar  memandangi para marsose (pasukan seperti Kopasus sekarang) berpawai sambil memalu  genderang yang diiringi bunyi trompet bersuara lengking. Kepala anak kecil itu seperti  dihela magnit mengikuti pawai. Tapi demi  melihat serombongan  laki-laki tanpa baju yang wajah dan  tubuhnya berlumur  cat  hitam,  anak kecil itu  merasa  ngeri.  Dan ketika melihat sebuah kepala terpenggal pada ujung  tombak yang digoyang-goyang, hatinya kecut. Memekik-mekik dia memanggil ibunya waktu berlari kembali ke rumah. Tapi ibunya tidak  ada. Di pojok kamar anak kecil itu terduduk  dengan kedua dengkul menopang kepala. Terisak karena merasa tidak terlindung dari ketakutan. Kepala terpenggal di ujung tombak,  dengan rambut panjang yang bergelimang darah  kering  dan  mata yang memutih terbuka lebar, tak putus-putus  melintas dalam mata angan anak kecil yang masih ingusan itu. Lebih dirapatkannya kedua dengkulnya seperti hendak menyatukan seluruh tubuhnya .......................Selengkapnya

Sabtu, 01 Desember 2012

Cerpen karya AA Navis: "Zaim Yang Penyair Pergi ke Istana"

Cerpen "Zaim Yang Penyair Pergi ke Istana"
Karya: AA Navis
  
Aku dapat undangan mengikuti suatu kongres di  Jakarta. Penginapan peserta di Hotel Indonesia. Hotel yang alu  kagumi pada awal didirikan 35 tahun yang lalu. Saat  kongres itulah aku baru bisa inapi. Temanku sekamar Zaim  namanya. Penyair  dari Madura. Aku belum melihat batang  hidungnya. Mungkin  sudah. Hanya karena belum kenal saja  aku  merasa belum ketemu dia.

Rupanya  pada setiap kongres yang  bertaraf  nasional, mestilah  dibuka oleh Presiden. Bila Presiden  tidak  bisa hadir,  maka pesertalah yang datang menghadap  ke  Istana. Aku termasuk salah seorang yang tidak bisa ikut  menghadadap oleh alasan tidak  memiliki syarat yang  pantas. Yaitu stelan jas dan dasi. Yah, apa boleh buatlah. Maka aku  pun tenang-tenang saja menerima sejarah hidup yang tidak bisa ketemu Presiden ...............Selengkapnya