LAKI-LAKI SEJATI
Cerpen karya Putu Wijaya
Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya.
"Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?"
Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan. ............selengkapnya
Bunga rampai cerpen (cerita pendek) sastrawan Indonesia, baik cerpen klasik, maupun cerpen modern.
Tampilkan postingan dengan label Cerpenis dengan Inisial 'P'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenis dengan Inisial 'P'. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Desember 2012
Jumat, 07 Desember 2012
Cerpen karya Putu Wijaya: "GURU"
Guru
Cerpen Karya: Putu Wijaya
Cerpen Karya: Putu Wijaya
Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan
istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru.
Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.
"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu?
Betul?!"
Taksu mengangguk.
"Betul Pak."
Kami kaget.
"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"
"Ya."
Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami
sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap
tajam-tajam, mata Taksu nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak
menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui
permasalahannya. ......................selengkapnya
Kamis, 06 Desember 2012
Cerpen karya Putu Wijaya: "Raksasa"
Cerpen "Raksasa"
Karya: Putu Wijaya
Karya: Putu Wijaya
Orang bilang menang jadi arang, kalah jadi abu. Itu tidak
selamanya benar. Ketika perang Bharatayudha berakhir, tak semua orang mati. Ada
beberapa orang raksasa berhasil melarikan diri, kemudian bersembunyi sehingga
hidupnya sampai sekarang lestari. Beberapa di antaranya sekarang tinggal di
Indonesia. Hidup mereka aman, damai, dan sentausa.
Tetapi karena raksasa telah dianggap sebagai mahluk jahat
yang tidak beradab dengan taring tajam, mulut lebar, yang mau makan apa saja,
tak peduli harta dan hak orang lain termasuk daging manusia, semua raksasa itu
menyembunyikan sejarah dan identitasnya. Mereka berbaur sebagai manusia biasa,
rakyat jelata yang tidak perlu ditakuti. Ada yang menyamar jadi sopir, tukang
minyak, tukang becak, tukang ojek, sopir angkot, ada juga yang jadi guru,
pegawai negeri, pedagang, pemborong, bintang film, cerdik-pandai, pemimpin
partai sampai pada pejabat dan panutan masyarakat di bidang rohani. Semuanya
menjaga ketat rahasia mereka sebagai raksasa. Sebab .......................Selengkapnya
Senin, 03 Desember 2012
Cerpen karya Putu Wijaya: "Kucing"
Cerpen "Kucing"
Karya: Putu Wijaya
KAMI bertengkar lagi. Menurut saya, tetap tiga hari sekali. Tidak bisa diganggu-gugat. Sekali-sekali boleh empat hari sekali. Tapi jangan sampai satu minggu sekali. Meskipun ini bulan Puasa. Itu kan kebutuhan rohani.
Tapi dasar kepala batu. Satu minggu satu kali saja sudah kebanyakan. Katanya dua minggu sekali cukup. Orang lain ada yang sebulan sekali. Apalagi pada bulan suci. Kalau tidak setuju terserah.
Setuju? Bagaimana mungkin saya setuju. Mestinya dia harus bersyukur, sebab setelah puluhan tahun, saya masih tetap fit. Saya selalu hangat, segar dan bertubi-tubi seperti prajurit yang siap menyerahkan jiwa raga untuk membela negara. Tidak ada kata bosan. Semuanya seakan yang pertama kali. Itu kan karunia yang harus disyukuri.
Tapi kontrak tidak bisa hanya satu pihak. Saya jadi pusing tujuh keliling. Lalu saya ngelencer ke segala penjuru kota membunuh waktu. Menunggu saat berbuka, saya masuki toko-toko buku. Mencari-cari yang tak ada. Akhirnya .....................Selengkapnya
Karya: Putu Wijaya
KAMI bertengkar lagi. Menurut saya, tetap tiga hari sekali. Tidak bisa diganggu-gugat. Sekali-sekali boleh empat hari sekali. Tapi jangan sampai satu minggu sekali. Meskipun ini bulan Puasa. Itu kan kebutuhan rohani.
Tapi dasar kepala batu. Satu minggu satu kali saja sudah kebanyakan. Katanya dua minggu sekali cukup. Orang lain ada yang sebulan sekali. Apalagi pada bulan suci. Kalau tidak setuju terserah.
Setuju? Bagaimana mungkin saya setuju. Mestinya dia harus bersyukur, sebab setelah puluhan tahun, saya masih tetap fit. Saya selalu hangat, segar dan bertubi-tubi seperti prajurit yang siap menyerahkan jiwa raga untuk membela negara. Tidak ada kata bosan. Semuanya seakan yang pertama kali. Itu kan karunia yang harus disyukuri.
Tapi kontrak tidak bisa hanya satu pihak. Saya jadi pusing tujuh keliling. Lalu saya ngelencer ke segala penjuru kota membunuh waktu. Menunggu saat berbuka, saya masuki toko-toko buku. Mencari-cari yang tak ada. Akhirnya .....................Selengkapnya
Langganan:
Postingan (Atom)