Sepanjang Jalan Cinta
Cerpen Irwan Kelana (Republika, 18 November 2012)
SEORANG lelaki tak bisa lari dari takdirnya sendiri. Ia tak bisa menolak manakala takdir cinta menghampirinya.
Delapan tahun lalu, saat Tuhan memanggil Rindu kembali ke haribaan-Nya, Bayu merasa amat terpukul. Mengapa Dia mencerabut wanita yang sangat dikasihinya–seorang istri yang sangat lembut dan penyayang–dari kehidupannya? Mengapa secepat itu wanita yang merupakan cinta pertamanya sejak SMA meninggalkannya dengan menitipkan dua orang putra yang baru duduk di bangku kelas I SMP dan kelas V SD?
Suatu malam, seusai menunaikan tugas suami-istri yang sangat indah, istrinya berbisik di telinganya.
“Mas percaya kepada Allah?”
Bayu tertawa kecil. “Ya iyalah.”
“Betul-betul percaya kepada Allah?” tanya istrinya lagi.....................selengkapnya,
Bunga rampai cerpen (cerita pendek) sastrawan Indonesia, baik cerpen klasik, maupun cerpen modern.
Tampilkan postingan dengan label Cerpenis dengan Inisial 'I'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenis dengan Inisial 'I'. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Desember 2012
Jumat, 07 Desember 2012
Cerpen karya Indra Tranggono: "Bulan Terbingkai Jendela"
Bulan Terbingkai Jendela
Cerpen Karya: Indra Tranggono
Cerpen Karya: Indra Tranggono
Perempuan itu membuka gorden jendela. Angin malam menyisir
rambutnya yang memerak dibakar usia, menerpa kerut-merut wajah yang dipahat
waktu. Bertiup dari perbukitan yang jauh, angin itu seperti pengembara abadi yang
setia mengunjunginya malam-malam begini. Itu memang kurang baik bagi dirinya
yang sering batuk-batuk. Tapi ia toh nekat. Ia percaya, sehelai syal yang
melilit di lehernya mampu melindunginya dari terpaan angin malam. Kemesraan
yang menyakiti? Ah, tidak juga. Bertahun-tahun ia menjadi sahabat angin, toh
aman-aman saja. Kalau sedikit batuk, itu tak lebih dari ongkos yang harus ia
bayar buat mengagumi ketegaran dan kesetiaan angin yang tetap saja bertiup,
entah sampai kapan. Hanya air yang selalu mengalir, pikirnya, yang mampu
menandingi kesetiaan angin. Juga ombak, yang tak pernah jera memukul-mukul
pantai dan karang. Betapa melelahkan. Tapi, cinta tak pernah mengenal lelah dan
sia-sia, pikirnya. ................Selengkapnya
Langganan:
Postingan (Atom)