Gumading Peksi Kundur
Cerpen Sanie B. Kuncoro (Jawa Pos, 18 November 2012)
LAKI-LAKI itu datang padamu di suatu sore yang bercahaya. Musim kemarau ketika itu, terik kulminasi matahari masih tersisa di sekitarmu. Debu tipis melekat pada reranting dan dedaunan. Saat angin menghampiri, akan kau dengar gemerisik dedaunan yang seolah membisikkan dahaganya kepadamu. Tak hendak kau abaikan bisikan itu, namun kunjungan seorang tamu di beranda rumah tentulah harus dipedulikan terlebih dahulu. Siraman air untuk mereka haruslah menunggu.
Kau letakkan canting dan meredupkan nyala api pada wajan berisi malam cair. Tanpa meneliti ulang, gerak tanganmu telah mengatur nyala sumbu kompor itu pada ukuran yang tepat. Redup yang pas untuk menghangatkan malam dengan titik api yang aman, sekadar untuk menjaganya tetap berupa lelehan tanpa akan membakar apalagi menghanguskan ............................Selengkapnya
Bunga rampai cerpen (cerita pendek) sastrawan Indonesia, baik cerpen klasik, maupun cerpen modern.
Tampilkan postingan dengan label Cerpenis dengan Inisial 'S'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpenis dengan Inisial 'S'. Tampilkan semua postingan
Jumat, 14 Desember 2012
Kamis, 06 Desember 2012
Cerpen karya Satmoko Budi Santoso: "Simpang Ajal"
Cerpen "Simpang Ajal"
Karya: Satmoko Budi Santoso
Karya: Satmoko Budi Santoso
SELESAI sudah tugas Montenero. Karenanya, kini ia tinggal
bunuh diri. Bunuh diri! Itu saja. Betapa tidak! Ia telah membunuh tiga orang
itu sekaligus. Ya, tiga orang. Santa, orang yang dengan serta-merta memenggal kepala
bapaknya ketika bapaknya menolak menandatangani selembar kertas yang berisi
surat perjanjian untuk terikat dengan sebuah partai. Lantas Denta, yang ketika
pembunuhan itu terjadi berusaha membungkam mulut bapaknya agar tidak berteriak,
serta Martineau yang mengikatkan tali pada tubuh bapaknya agar bapaknya tak
bergerak sedikit pun menjelang kematiannya. Karena itu, sekarang, Montenero
sendiri tinggal bunuh diri! ........................Selengkapnya
Minggu, 02 Desember 2012
Cerpen karya Seno Gumira Ajidarma: "Saksi Mata"
Cerpen "Saksi Mata"
Karya: Seno Gumira Ajidarma
Darah membasahi pipinya membasahi bajunya
membasahi celananya, membasahi sepatunya dan mengalir perlahan-lahan di lantai
ruang pengadilan yang sebetulnya sudah dipel bersih-bersih dnegan karbol yang
baunya bahkan masih tercium oleh para pengunjung yang kini menjadi gempar dan
berteriak-teriak dengan emosi meluap-luap sementara para wartawan yang selalu
menanggapi peristiwa menggemparkan dengan penuh gairah segera memotret Saksi
Mata itu dari segala sudut sampai menungging-nungging sehingga lampu kilat yang
berkeredap membuat suasana makin panas ...................Selengkapnya
Karya: Seno Gumira Ajidarma
Saksi mata itu datang tanpa mata. Ia berjalan tertatih-tatih
di tengah ruang pengadilan dengan tangan meraba-raba udara. Dari lobang pada bekas tempat kedua
matanya mengucur darah yang begitu merah bagaikan tiada warna merah yang lebih
merah dari merahnya darah yang mengucur perlahan-lahan dan terus menerus dari
lobang mata itu.
Langganan:
Postingan (Atom)